Optimalkan Potensi Lahan Rawa, BBPP Binuang Latih Petani Anjir Muara

Category:
MARABAHAN, Lahan rawa yang mendominasi di Kalimantan Selatan, sejatinya sangat mungkin dimanfaatkan secara maksimal untuk mendongkrak hasil pertanian padi. Tepat jika kemudian program Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani alias #SERASI yang digaungkan Kementerian Pertanian diterapkan di Kalsel. Ini tentunya harus diimbangi dengan pembekalan SDM petani agar potensi ini dapat meningkatkan produktifitas lahan rawa.
Didasari ini, untuk membekali petani dalam mengoptimalkan tanaman padi di lahan rawa,  Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Binuang menggelar pelatihan tematik Padi Lahan Rawa Angkatan VII.  Pelatihan yang diselenggarakan selama tiga hari, mulai 27 hingga 29 Juli 2019 dipusatkan di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Anjir Muara, Kabupaten Barito Kuala.
Pelatihan tampak disambut antusias, mengingat edukasi tani ini diikuti 29 peserta laki-laki plus 1 peserta perempuan. Peserta sendiri berasal dari 15 desa di Kecamatan Anjir Muara. Bertindak sebagai Fasilitator pada pelatihan ini Kepala BBPP Binuang, Dr Ir Yulia Asni Kurniawati M.Si, Widyaiswara BBPP Binuang Budiono SP MM, Kasi Bina Ketenagaan Penyuluh Dinas Pertanian  Kabupaten Barito Kuala Ir Rakhmadi serta Penyuluh Pertanian BPP Anjir Muara Rudiansyah SP.
“Peserta antusias mengikuti kegiatan ini.  Mudah-mudahan pelatihan tematik ini menambah wawasan dan pengetahuan petani-petani kita untuk senantiasa meningkatkan kinerja Kelompok dalam hal peningkatan produksi padi di lahan rawa,” tutur Rudiansyah, PPL BPP Anjir Muara.
Sementara itu, Ir Rakhmadi berharap dengan pelatihan ini petani dapat meningkatkan pengetahuan dan dapat menerapkan teknologi yang disampaikan oleh narasumber. “Tentunya juga dapat meningkatkan produksi padi, khususnya di wilayah Kabupaten Barito Kuala,” imbuhnya.
Kepala BBPP Binuang, Dr. Ir. Yulia Asni Kurniawati M.Si yang berkesempatan menyampaikan materi pelatihan ini mengatakan, diperlukan kemandirian petani dengan cara rutin mengadakan pertemuan antar gabungan kelompok tani (Gapoktan). “Ini tak lain agar bisa saling diskusi. Dengan begitu petani bisa lebih mudah dalam permodalan, pengelolaan lahan,  penggunaan Alsintan, hingga panen dan siap dipasarkan,” tuturnya.
Bagikan :

TAGS:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *