Optimalkan Sumber Daya Hayati, BBPP Binuang Gelar Pelatihan Tematik Cabai Angkatan I

Category:
KANDANGAN, Ketersediaan sumber daya hayati, sejatinya bisa dijadikan sumber ekonomi potensial bagi masyarakat di pedesaan. Tentu sumber daya hayati ini butuh pengelolaan optimal agar keberadaannya bermanfaat untuk penanggulangan kemiskinan dan penyediaan lapangan pekerjaan.
Sayang, potensi ini belum dimanfaatkan optimal untuk pengembangan pertanian holtikultura. Penyebabnya ditengarai akibat rendahnya produktivitas, skala usaha sempit, dan belum efisien dalam budidaya. Atas dasar itu, Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Binuang sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) menggelar Pelatihan Tematik Cabai Angkatan I. Pelatihan ini dilangsungkan selama tiga hari, dari 8 hingga 10 Agustus 2019 di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Telaga Langsat, Hulu Sungai Selatan. Pelatihan dibuka Kabid P2HP Dinas Pertanian HSS, Hj Lutfiah SP MP, kamis (8/8/2019).
Hj Lutfiah mengungkapkan, Hama Penyakit Tanaman (HPT) sering ditemui di HSS. Setelah mengikuti pelatihan ini, petani diharapkan dapat menangani HPT dengan bahan organik. “Pada pelatihan ini, Fasilitator dan Widyaiswara BBPP Binuang diharapkan dapat membimbing agar semua peserta pelatihan mendapatkan ilmu di lapangan dan sharing ilmu,” tuturnya. Sejauh ini, lanjutnya, Dinas Pertanian banyak menemukan pestisida bahan kimia yang digunakan petani. Karena itu, setelah pelatihan ini petani diharapkan mampu mengolah  sendiri pestisida nabati dan digunakan di lahan masing-masing.
Widyaiswara BBPP Binuang, Susmawati menambahkan, pelatihan ini sangat bermanfaat. Untuk itu diharapkan peserta dapat menimba ilmu dengan serius. “Terkait Teknologi budidaya cabai yang belum diketahui dapat didiskusikan bersama,” jelasnya. Sementara itu, Kepala BBPP Binuang, Dr Ir Yulia Asni Kurniawati M.Si juga berkesempatan mengisi materi pada pelatihan ini. Menurut Yulia, diperlukan Kelompok Usaha Bersama (KUB) antar petani agar menjadi produktif. “Apabila  budidaya cabai dikelola secara kelompok, maka kelompok ini dapat mengendalikan dan menetukan sendiri harga cabai di pasaran, dan tidak dipermainkan oleh tengkulak,” paparnya.
Bagikan :

TAGS:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *