Jadi Pembicara di Temu Perhiptani, Profesor Hatta Paparkan Materi Ini

Category:

BINUANG, Temu profesi Perhimpunan Penyuluh Pertanian Indonesia (Perhiptani) turut melengkapi rangkaian Pekan Daerah (Peda) I Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kalimantan Selatan.

Temu Perhiptani digelar di Aula Bangkinang Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Binuang dan dibuka Ketua Umum Perhiptani Kalsel, Ir H Sumedi, Sabtu (16/11/2019).

Pada kegiatan ini, dipaparkan mengenai pengembangan karir penyuluh pertanian melalui peningkatan kapasitas. Materi ini disampaikan oleh Wakil Ketua Umum Perhiptani, Teguh.

Kemudian juga disampaikan materi pemanfaatan teknologi informasi dalam penyuluhan pertanian oleh Sekretaris Perhiptani, Ir H Kurjiansyah Asyad.

Selanjutnya untuk memotivasi para penyuluh panitia mempercayakan kepada Prof Gusti Muhammad Hatta dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM).

Dalam motivasinya, Hatta mengatakan, orang yang berpengalaman dikatakan banyak makan asam garam. Dalam bahasa inggris garam berarti salt. Salt bisa diartikan sebagai Science, Art, Language, dan Tools.

“Kita harus menguasai ilmu pengetahuan, mempunyai seni, menguasai bahasa yang sesuai dengan audience dan memanfaatkan peralatan sesuai dengan perkembangan zaman,” terangnya.
Dalam belajar ada 3 ranah, yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik. “Yang perlu dikembangkan adalah bahwa proses belajar itu harus sampai ke ranah psikomotorik, sehingga dapat memberikan dampak yang nyata,” imbuhnya.

Selanjutnya, pemanfaatan teknologi diperlukan sesuai dengan keperluan. Sebagai contoh di salah satu daerah, yaitu Pandan Simo.

Dulu tempat tersebut sepi dan belum teraliri listrik. Penduduknya bekerja sebagai nelayan. Karena tidak membawa balok es sebagai pengawet ikan, banyak hasil tangkapan menjadi rusak.

Upaya yang dilakukan di tempat tersebut adalah membangun Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB). Dengan listrik yang dihasilkan, dapat dimanfaatkan untuk membuat balok es sebagai pengawet ikan.

Selain itu, juga digunakan untuk pompa air. Karena air berlebih dimanfaatkan untuk perikanan air tawar dan tanaman sayuran. Alhasil, tempat tersebut pun semakin ramai dan menjadi tempat wisata.

“Untuk dapat berkembang, kita harus berinovasi dan kreatif. Dalam berkreasi melalui proses penelitian. Meneliti boleh salah, tapi tidak boleh bohong,” tuturnya.

Penyampaian materi pada temu Perhiptani ini juga diwarnai sesi tanya jawab.

Pada kesempatan ini, Kepala Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Binuang, Dr Ir Yulia Asni Kurniawati M.Si berpesan agar penyuluh harus menolong dirinya sendiri sebelum menolong orang lain. Satu di antaranya dengan cara meningkatkan kompetensi.

Dalam waktu dekat dijadwalkan pelatihan program Kostratani dengan peserta berasal dari 4 BPP di Kabupaten Tapin dan 3 BPP di Kabupaten Barito Kuala.
Pelatihan mengarah ke hilirisasi. Pelatihan juga diarahkan ke industri. Ke depan Penyuluh Pertanian harus disertifikasi.[rka/bayu]

Bagikan :

TAGS:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *