BBPP Binuang Hadiri Panen Benih Jagung Nasa 29

Category:

TENGGARONG – Panen benih jagung Nasa 29 digelar di Desa Bangun Rejo, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur.

Kegiatan panen ini dihadiri langsung Bupati Kukar, Edy Damansyah, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan, BBPP Binuang, para pejabat maupun instansi yang ada di Kukar dan Kecamatan Tenggarong Seberang, termasuk juga penyuluh pertanian, wanita tani, Karang Taruna, kelompok pemberdayaan perempuan dan stakeholder.

Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP), Dr Muhammad Amin S.Pi M.Si mengatakan, varietas unggul baru jagung hibrida Nakula Sadewa (Nasa) 29, merupakan salah satu upaya khusus (Upsus) dalam peningkatan produksi jagung dan keberhasilan usahatani jagung.

“Budidaya jagung hibrida tongkol ganda dengan nama Nasa 29 lebih menguntungkan sekitar 36 persen dibandingkan dengan varietas Bisi 2,” terangnya.

Untuk itu, BPTPĀ Balitbangtan Kalimantan Timur mendorong masyarakat untuk menjadi penangkar benihnya.
Potensi jagung di Kalimantan Timur sangat besar.

“Kita dorong agar ada dari masyarakat yang bisa menjadi penangkar,” tutur Amin, panggilan akrab Dr Muhammad Amin S.Pi M.Si ini.

Amin mengaku sudah menguji jagung hibrida dan mudah pembudidayaannya. Selama ini, pasar varietas jagung hanya dikuasai perusahaan besar dan asing, padahal Indonesia mampu membudidayakannya.

Amin menjelaskan, Nasa 29 merupakan seri paling baru. Varietas baru ini bertongkol dua hingga 90 persen, sedangkan tongkol dua Bisi 2 hanya 40 persen.

“Nasa 29 merupakan produk Badan Litbang, dan yang memberi nama Pak Jokowi (Presiden RI, red), dari asal kata Nakula Sadewa pada 2016 lalu,” jelasnya.

Masih menurut Amin, varietas ini cocok ditanam di Kalimantan Timur, karena telah diuji coba. Jenis ini bisa dibudidayakan masyarakat.

Jagung hibrida Nasa 29 memiliki keunggulan, yakni warna batang dan daun di atas tongkol masih hijau saat biji sudah masak atau waktu panen, sehingga dapat dimanfaatkan untuk pakan. Peningkatan hasil lebih dari 35 persen dari jagung hibrida tongkol dua, rendeman tinggi, dan janggel yang keras.

Nasa 29 memiliki umur panen 100 hari setelah tanam dengan warna biji kuning-orange. Selain potensi hasil yang tinggi, Nasa 29 memiliki ketahanan terhadap penyakit bulai, karat, dan hawar.
Memang masih ada bolong-bolongnya tetapi relatif lebih sedikit.

Sementara itu ditemui di tempat terpisah, Kepala BBPP Binuang, Dr Ir Yulia Asni Kurniawati M.Si Kepala memaparkan, varietas Nasa 29 adalah produk yang masih baru dan belum banyak masyarakat mengenalnya, sehingga memerlukan sosialisasi yang lebih intens.

Yulia bertekad ikut mendorong masyarakat melalui kegiatan pelatihan di BBPP Binuang, di mana sekarang sudah mulai tampak tumbuh minat masyarakat terhadap Nasa 29.

Seperti diketahui, pemerintah berusaha menekan impor jagung dengan meningkatkan produksi dalam negeri. Impor jagung sejak 2016 mengalami penurun sekitar 60 persen dan pemerintah melalui Kementerian Pertanian yang ditukangi sang maestro Amran Sulaeman (Mentan) pada 2018 sudah membalikkan dari impor menjadi ekspor.[t2s/bayu/mia]

Bagikan :

TAGS:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *