Debat Sebagai Suatu Metode, Mungkinkan?

Category:

DEBAT SEBAGAI SUATU METODE, MUNGKINKAN?
oleh
Marhaenis Budi Santoso
Widyaiswara Balai Besar Pelatihan Pertanian Binuang

THE BATTLE OF WITS, demikian judul sebuah acara yang ditayangkan di TVRI nasional dan juga TVRI Kalimantan Selatan di tahun 2008. Acara tersebut mempertotonkan dua kelompok pelajar dalam suatu debat akademis tentang suatu masalah tertentu. Dengan menyaksikan acara tersebut, apa yang menarik dari debat itu adalah selain materi yang diperdebatkan, juga debat itu dipresentasikan dalam bahasa Inggris.

Bukan itu saja, pada setiap menjelang pemilu acara debat juga ditayangkan oleh beberapa media penyiaran televisi antar partai dan debat antar kelompok tentang suatu isu yang sedang berkembang. Pada tahun ini, setiap hari hampir ada acara debat ditayangkan, antara lain debat antar calon pimpinan daerah seperti Gubernur dan Bupati. Kita nanti juga akan menyaksikan debat antar calon presiden. Dengan demikian, mungkin, kita akan terus dapat menyaksikan debat antar calon presiden dan calon wakil presiden, antar gubernur dan wakilnya, dan antar bupati dan wakilnya di saat-saat menjelang Pemilu.

Apa debat itu dan mungkinkan debat dapat dikembangkan sebagai suatu metode dalam proses pembelajaran, ini yang menarik kita telaah.

Tidak dapat disangkal lagi bahwa dalam kehidupan sehari-hari manusia sering dihadapkan kepada berbagai permasalahan yang mengharuskan manusia untuk menentukan sikap atau mengambil keputusan segera terhadap masalah tersebut. Banyak orang yang melibatkan dirinya dalam pemikiran tentang berbagai bidang seperti kenaikan BBM, lingkungan, ketenagakerjaan, kriminologi, pendidikan, politik, kebijaksanaan ekonomi, dan banyak lagi persoalan yang secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi kehidupan mereka. Tetapi sayangnya, mereka sering tidak dapat menentukan pendiriannya secara rasional karena mereka tidak memiliki alat untuk mengamati dan membuat keputusan terhadap masalah tersebut. Oleh karena itu, penting sekali bagi orang yang memiliki rasa tanggung jawab untuk mengetahui dan menggunakan proses pembuatan keputusan secara rasional, agar secara meyakinkan mampu menguasai setiap persoalan yang dihadapi dan mantap dalam menentukan sikap dan keputusan. Dalam menentukan sikap terhadap suatu masalah inilah kita sering harus terlibat dalam perdebatan.

Debat sebenarnya tidak dapat dipisahkan dari aktivitas diskusi. Diskusi dipandang sebagai suatu metode, jika kita menghadapi masalah. Dalam diskusi terjadi proses dimana beberapa orang melibatkan diri dalam pembicaraan. Melalui diskusi diharapkan dapat mencapai saling pengertian untuk kemudian secara bersama-sama dapat mengambil kesimpulan atau keputusan. Namun, dapat terjadi bahwa peserta diskusi tidak sampai kepada kesepakatan bersama untuk memperoleh kesimpulan. Dalam keadaan seperti ini, maka diskusi dapat atau sering menjurus kepada debat. Debat yang terjadi tidak jarang melibatkan emosi yang berlebihan sehingga yang terlibat dalamĀ  debat tersebut tidak mendapatkan pengetahuan apa-apa melainkan perasaan dongkol yang mengganjal di dalam hati. Hal ini, pada umumnya dikarenakan mereka tidak memiliki penguasaan terhadap materi dan ketrampilan dalam berdebat.

Meskipun diskusi dan debat saling berhubungan, tetapi terdapat sedikit perbedaan. Diskusi menggunakan analisis dan sedikit bukti dan argumen, sedangkan debat membutuhkan argumen yang kuat.

Tidak seperti diskusi, debat selalu terdapat dua pihak yang berbeda pendirian. Pihak pertama adalah yang menyetujui keputusan atau proposisi (Tim Afirmatif) dan pihak kedua yang menyanggahnya (Tim Negatif). Pihak afirmatif bertugas dan bertanggung jawab untuk menjelaskan pokok-pokok pendiriannya, mengatasi presumsi (anggapan) dan menangkis sanggahan-sanggahan pihak negatif. Pihak negatif bertugas melancarkan bantahan dan mengajukan pokok-pokok pikirannya dari segi negatifnya, serta menangkis dari pihak afirmatif. Melalui debat, kedua pihak masing-masing berusaha untuk mengemukakan argumen yang saling mengatasi (mengungguli) sehingga mampu memenangkan pendiriannya. Jadi, dalam debat dua pihak beradu argumentasi. Argumen ini memegang peranan penting yakni menjadi landasan teoritis dan alat yang digunakan untuk menguji masalah. Argumen yang baik, yang muncul selama proses debat, akan menjadi alat bantu dalam proses pengambilan keputusan.

Sebagai suatu metode dalam proses pengambilan keputusan, debat memberikan banyak manfaat. Pada umumnya mereka yang sering melibatkan diri dalam debat akademis akan lebih terlatih dalam berpikir kritis dan dalam mengemukakan pandangannya disertai dengan argumen-argumen yang logis dan faktual. Kemampuan berpikir kritis tersebut dapat diperoleh karena dalam berdebat seorang debator harus melakukan aktivitas mental mulai dari memahami struktur masalah yang diperdebatkan, mengumpulkan informasi dan bukti, menyusun argumentasi untuk mendukung pendiriannya, meneliti dan menilai argumentasi pihak lawan, dan selanjutnya dengan pikiran yang jernih dan emosi yang terkendali debator harus mampu mengkomunikasikan dengan tepat, cepat, dan jelas.

Debat memiliki ketentuan atau pembatasan tertentu. Kedua belah pihak harus memiliki kesempatan yang sama untuk bicara seperti jumlah waktu bicara, jumlah yang boleh bicara, dan kesempatan untuk menangkis. Ini berarti bahwa dalam debat harus ada pemimpin yang bertugas memoderasi jalannya debat, juga ada tim juri yang bertugas untuk menilai proses debat ‘serta ketangguhan kedua tim yang berdebat. Selain itu, kedua belah pihak harus bebas dari tekanan dan bebas untuk mengemukakan pendiriannya. Sulit untuk berpikir logis jika suatu debat dilakukan di bawah tekanan misalnya debat antara pimpinan dan bawahan dalam suatu instansi.

Bahwa debat memang diperlukan dalam suatu proses pengambilan keputusan, maka tidak berlebihan jika debat perlu dikuasai oleh setiap orang yang terlibat didalamnya. Ini berarti debat sebagai suatu metode pengambiIan keputusan atau dengan kata lain sebagai subject matter dapat dikembangkan melalui proses pendidikan dan pelatihan. Pertanyaan selanjutnya, mungkinkah debat dikembangkan sebagai suatu metode pembelajaran. Jika kita lihat telaah sederhana di atas, debat sebagai suatu aktivitas yang memerlukan kemampuan berpikir dan berkomunikasi nampaknya dapat diterima dan menarik untuk dikembangkan sebagai subject matter atau sebagai suatu metode dalam proses pengambilan keputusan, yang kedudukannya dapat disamakan dengan metode diskusi (mbs)

Bagikan :

TAGS:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *