Optimalkan Lawan Rawa, Ini Kiprah BBPP Binuang Dalam Program #SERASI

Category:
MARTAPURA, HUMAS – Salah satu program yang sedang digulirkan Kementerian Pertanian adalah mengoptimalkan lahan rawa. BPPSDMP telah menginisiasi pendekatan ini di dua lokasi, yaitu Kabupaten Banjar di Kalimantan Selatan dan Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan
Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan memiliki lahan rawa yang cukup luas. Lahan raksasa ini masih tidur pulas, sekalipun air melimpah dan membasahi sekujur tubuhnya.
Potensi yang cukup besar sekarang sudah mulai digarap dan disulap untuk menjadi lahan pertanian modern. Program ini di samping untuk meningkatkan produksi padi yang berujung pada ketersediaan stok beras, juga diharapkan akan lahir dan mencetak petani-petani milenial.
Sangat disadari keterbatasan tenaga merupakan kendala untuk merubah wajah rawa menjadi pertanian modern. Oleh karena itu, menjadi suatu keharusan bahwa SDM pertanian yang mampu mengoperasionalkan alat mesin pertanian sangat dibutuhkan.
Dalam hal ini, Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Binuang dituntut berperan secara aktif untuk mampu menciptakan dan sekaligus untuk mewujudkan SDM perubah.
Kepala BBPP Binuang, Dr Ir Yulia Asni Kurniawati M.Si saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (15/2/2019) mengatakan, agar lahan rawa ini berkelanjutan harus dikelola oleh sumber daya manusia pertanian milenial yang mempunyai keahlian tinggi, berani mengambil risiko, inovatif, dan sigap menghadapi tantangan.
Yulia meyakini SDM milenial sangat sesuai mengelola lahan rawa, karena upah menjadi lebih menarik. Kesan petani kotor dan kumal akan sirna, karena mereka tidak lagi harus bermain dengan lumpur, sehingga menjadi lebih kompetitif dibandingkan dengan bekerja sebagai buruh.
“Memang zaman milenial sekarang ini, perlu diakui banyak generasi muda lebih memilih untuk bekerja di perkantoran atau pun terjun ke industri digital lainnya, atau menjadi pegawai kantoran dan seorang vlogger atau blogger dianggap memiliki daya tarik sendiri dalam menjalankan aktivitas sehari-hari,” paparnya.
Menurut Yulia, dunia pertanian pun jarang dilirik oleh generasi muda, sebab sering dianggap tidak “gaul” dan terkesan kampungan. Inilah tantangan yang harus segera diselesaikan.
Yulia mengatakan, Kementerian Pertanian tidak hanya memberikan bantuan Alsintan, tetapi juga fokus melakukan optimalisasi pemanfaatan alsintan. Salah satunya mendorong BBPP Binuang untuk memberikan pelatihan operator alsintan kepada Poktan.
“Dengan begitu, pelatihan itu dapat merubah paradigma petani dari konvensional ke modern. Kenapa ini kami lakukan, sebab ini akan memberikan nilai tambah. Dengan menggunaan Alsintan, ini meningkatkan nilai produksi hasil pertanian dan mengurangi tenaga kerja. Ini juga sebagai antisipasi mengatasi kekurangan tenaga yang ada di desa,” jelasnya.
Dalam jangka panjang, optimalisasi rawa ini sangat memungkinkan bertambahnya LTT, luas panen, produktifitas, dan hasil pertanian seperti padi, jagung, kedelai, sayur, ternak seperti itik, ayam, ikan menjadi berlimpah.
“Areal pengembangan ini, selanjutnya menjadi terbuka bagi generasi milenial untuk menggantungkan masa depannya di sektor pertanian,” pungkas Yulia.[T2S/bayu]
Bagikan :

TAGS:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *